Jurnal Vol 5 No 1 Februari 2011

Jurnal Langue, Februari 2011 Vol 5 No. 1

ISSN: 1693-0487

 

KLIMAKS DRAMA OTHELLO

 

Awidyo Sasmito

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

This paper is aimed to answer the question what the climax of the play is. Climax which is a part of a plot is not so easy to see. A strong disagreement of something is regarded as a conflict. Climax is an unsettled conflict. Climax is the point of the greatest interest or excitement of a play. There are many climaxes which appear in this classical drama. Deciding the main climax from the sub ones is a hard thing to do but a careful examination of the criteria may help. Structural approach that analyzes the intrinsic elements is a way to cope the problems. The actions of the main character are the data of observation and this kind of observation belongs to qualitative methodology. By analyzing the unsolved climaxes the writer manages to identify the appropriate climax supported by plausible evidences. Climax is the end of the rising action because it constitutes a major turning in the play. The hero makes a decision or makes some important discovery about himself or others in the play. The act of making a decision which interrupts the story of the play is called climax.

 

Key words: climax, Othello drama.

 

Abstrak

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan dimana klimaks dari drama Othello. Klimaks yang merupakan bagian dari sebuah plot tidak mudah dikenali. Adanya sebuah ketidaksepakatan terhadap sesuatu merupakan sebuah konflik yang merupakan bagian terpenting dari sebuah drama. Sebuah drama mempunyai banyak konflik. Menentukan konflik utama dari sekian banyak konflik merupakan hal yang tidak mudah tetapi dengan memahami kriteria konflik dengan seksama sangat membantu dalam menentukan konflik. Pendekatan structural yang membahas unsur-unsur di dalam drama itu sendiri merupakan jalan untuk mengatasi masalah. Tingkah laku dari tokoh utama merupakan data observasi peneliti karena itu tulisan ini menerapkan metode kualitatif. Dengan menganalisis masalah-masalah yang tak terpecahkan penulis dapat menemukan klimaks yang didukung oleh data yang dapat diperyanggungjawabkan. Klimaks adalah sebuah tindakan yang berada diujung masa rising action yang merupakan titik balik. Tokoh utama membuat keputusan atau menemukan sesuatu tentang dirinya atau diri orang lain yang merupakan kewajaran cerita.

 

Kata kunci: klimaks, drama Othello.

 

THE INFLUENCES OF UNPLEASANT MEMORIES

OF FRANK CASTLE’S MURDERED FAMILY

TOWARDS HIS PERSONALITY CHANGES

IN HANDLING HIS EMOTIONAL RESPONSES IN THE PUNISHER MOVIE

 

Revida Engelbertha

Dosen Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

The Punisher’ tells about FBI agent. Frank Castle is an undercover agent working his last case before his retires. He has had all the hard cases along his whole career, even when he was in the Army’s Special Forces. The purposes of writing this study are: First, to analyze the factors which influence Frank Castle’s personality changes. Second, to analyze the emotional responses of Frank Castle in solving his problems. Third, to discuss further the personality changes of Frank Castle.This study applies qualitative methodology and descriptive analysis. The data is taken from ’The Punisher’. In analyzing the data, the writer applies psychological approach and basic theories of psychology which do not only focus on the mind but also behaviors. Behavior has something to do with characters that influence the development of the relationship toward others. Life is a matter of making choices whether it is good or bad. There is no perfect decision leading somebody to do right or wrong things. What is right at the beginning might be wrong at the end. Good things might change to evils or vice versa.

 

Key words: memories, personality

 

Abstrak

Film ‘The Punisher’ bercerita tentang agen FBI, Frank Castle, yang menjalani tugas terakhirnya sebelum pensiun. Dia telah berpengalaman menangani kasus-kasus berat sepanjang karirnya bahkan sejak dia masih bertugas di angkatan darat. Tujuan artikel ini adalah: pertama, untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahan personalitas Frank Castle. Kedua, untuk mengetahui respon emosional secara psikologis dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Frank Castle. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dan analisis deskriptif. Data diambil dari ‘The Punisher’ dan dalam menganalisis data penulis menerapkan pendekatan psikologis serta teori-teori psikologi yang tidak hanya menitikberatkan pada masalah pikiran tetapi juga tingkah laku. Tingkah laku erat kaitannya dengan karakter yang berpengaruh pada hubungan interpersonal. Kehidupan adalah hanya masalah pilihan, ada yang baik dan ada yang buruk. Tidak ada keputusan yang paling baik untuk seseorang dalam menentukan pilihan yang baik atau buruk. Hal yang baik di awal mungkin berakhir buruk. Sesuatu yang baik bisa berubah buruk begitu pula sebaliknya

 

Kata kunci: kenangan, personalitas

 

 

PERAN MEDIA DALAM MENEGASKAN KEHAMPAAN DARI BUDAYA KONSUMERISME

DALAM DUA NOVEL DON DELILLO,

WHITE NOISE DAN THE NAMES

 

Wulansari

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Periwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

Don Delillo’s novels, The Names and White Noise deal much with worl dominated by plural people, places, and cultures which potray the different ways of thinking, origins, and reasons in tringgering the emergence of the consumerism culture. The aim of this study is to reveal the roles of media participate much in either deconstructing and emphasizing the nihilism of the existed consumerism culture. The method used in this study is descriptive analysis which applies sociocultural approach. It focuses the analysis on the conflicts happen in family, the friction in marriage, and the unpredictable metal growth of children are just only the unavoidable risks of the process in understanding the advance of the uncontrollable sophisticated mass,electronics, and telecommunication media. These media have backed up much the characters as the agent, producer and marketer in the transaction of consumerism culture. Ironically, The Names and White Noise show the failure of the consumed mind, intellectuals and technology in establishing the settled and expected society which is proven by the devoured humanization.

 

Key Words: media, consumerism

 

Abstrak

The Names dan White Noise adalah novel karya Don Delillo yang menceritakan dunia yang didominasi oleh keberagaman manusia, tempat, dan budaya yang mencerminkan perbedaan pemikiran, asal-usul, dan alasan yang memicu merebaknya budaya konsumerisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tema adanya peran media dalam menegaskan kehampaan budaya konsumerisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif yang mengaplikasikan pendekatan sosio-budaya. Penelitian ini memfokuskan analisanya pada konflik yang terjadi dalam keluarga, pernikahan, dan perkembangan mental anak yang tidak terduga sebagai resiko tak terhindarkan dari proses pemahaman akan kemajuan media masa, elektronik, dan telekomunikasi yang canggih dan tak terkendali. Media-media tersebut telah mendukung para tokoh yang berperan sebagai agen, penghasil, dan agen pemasaran dalam transaksi budaya konsumerisme sendiri. Ironisnya novel The Names dan White Noise menunjukkan kegagalan dari konsumsi pemikiran, kecerdasan, dan teknologi dalam menciptakan masyarakat yang mapan dan diharapkan yang dibuktikan dengan adanya kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Kata Kunci: media, konsumerisme

 

PERBANDINGAN PENGAJARAN KALIMAT TIDAK LANGSUNG

MELALUI GAMBAR DAN TANPA GAMBAR

TERHADAP PEMAHAMAN SISWA

 

Susiyati

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

Teaching indirect speech or reported speech in English is a problem for most of English teachers. The objectives of this research are: first, to identify problems that might arise in teaching indirect speech in English. In learning indirect speech, the students do not only have difficulties in changing tenses, but also in changing pronouns from direct speech to indirect speech. Second, to overcome the problems by teaching indirect speech through pictures. This research applies simple randomized design. Data is taken from the post test of control and experiment groups. The result shows that teaching indirect speech through pictures is better than teaching without pictures.

 

Key Words: indirect speech, pictures, students’ comprehension

 

Abstrak

Mengajarkan kalimat tidak langsung di dalam bahasa Inggris merupakan masalah bagi sebagian para pengajar bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah: yang pertama adalah untuk mengidentifikasikan masalah-masalah yang muncul di dalam pengajaran kalimat tidak langsung di dalam bahasa Inggris. Dalam mempelajari kalimat tidak langsung, siswa bukan saja dihadapkan pada masalah mengubah bentuk-bentuk kalimat tetapi juga kata ganti orang dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Yang kedua adalah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan membandingkan pengajaran kalimat tidak langsung melalui gambar-gambar dan tanpa gambar-gambar. Penelitian ini menggunakan ‘simple randomized design’. Data diperoleh dari test akhir pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran kalimat tidak langsung melalui gambar-gambar dapat meningkatkan pemahaman siswa dibandingkan dengan pegajaran tanpa gambar-gambar.

 

Kata Kunci: kalimat tidak langsung, gambar-gambar, pemahaman siswa.

 

HUBUNGAN ANTARA PENINGKATAN PENGETAHUAN KEBAHASAAN,

SIKAP ORANG TUA TERHADAP POLA BELAJAR ANAK,

DAN HASIL BELAJAR MEMBACA PEMAHAMAN:

STUDI KASUS SEKOLAH DASAR NEGERI KECAMATAN KRAMAT JATI JAKARTA TIMUR

 

Artanti

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

The effort of improving elementary school students’ linguistic competence and their learning output should be conducted based on instructional programs which can be verified by means of field researches. The objectives of this research are: first, to find out the correlation between the students’ linguistic competence and reading comprehension achievement. Second, to discover the correlation between parents’ attitude towards children’s learning habit and reading comprehension achievement. Third, to find out the correlation between parents’ linguistic competence and attitude towards children’s learning habit and reading comprehension achievement. The result of this research shows that the higher parents’ attitude towards their children’s learning habit, the higher the children’s reading comprehension achievement.

 

Key words: Linguistic competence, parents’ attitude, reading comprehension achievement

 

Abstrak

Upaya memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan kebahasaan dan hasil belajar siswa Sekolah Dasar tentu dilaksanakan berdasarkan program pengajaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan hal tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penelitian lapangan. Hal ini dilakukan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mengikuti ujian nasional materi bidang bahasa Indonesia di sekolah, khususnya Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: yang pertama, hubungan antara peningkatan pengetahuan kebahasaan dan hasil belajar membaca pemahaman; yang kedua, pengaruh sikap orang tua terhadap pola belajar anak dan hasil belajar membaca pemahaman dan yang ketiga, hubungan antara pengetahuan kebahasaan dan sikap orang tua terhadap pola belajar anak secara bersama-sama dengan hasil belajar membaca pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi sikap orang tua terhadap pola belajar anak, maka makin tinggi hasil belajar membaca pemahaman.

 

Kata Kunci : pengetahuan kebahasaan, sikap orang tua, hasil belajar membaca pemahaman.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan