Jurnal Vol 2 No 2 Oktober 2008

 

Jurnal Langue, Oktober 2008 Vol 2 No. 2

ISSN: 1693-0487

 

KONJUNGSI SEBAGAI SARANA KOHESI DALAM WACANA BAHASA BATAK

 

Revida Engelbertha

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

 

Abstract

This study aims at: (I) Identifying and Analyzing the onjunction as an Instrument of Cohesion Discourse in the Toba Batak Bible Language. (2) Describing the characteristic of conjunction as well that found in the Toba Batak Bible Language. The data, which are sentences containing conjunction and indicating cohesion have been obtained from all discourses found in the Gospel of Matthew, Mark, Luke and John in the Toba Batak Bible. The method used m this research is the qualitative method. The study results show that the conjunctor may consist of one, two or more words. Conjunctors can be combined with other kinds of word and with other conjunctors. Every conjunctor has been described according to its characteristics. The Batak Toba samples have been traslated to Indonesian. But not all worls could be translated into Indonesian because they would have lost the Biblical meaning. It can be concluded this study has given an interesting illustration about cohesion, for nearly every verse of the Gospel has been connected by a conjunction.

 

Keywords: Konjungtion, kohesi.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk: (I) Mengidentifikasi dan Menganalisis onjunction sebagai Instrumen Kohesi Wacana dalam Bahasa Batak Toba Alkitab. (2) Mendeskripsikan karakteristik hubungannya juga yang ditemukan di Batak Toba Bahasa Alkitab. Data, yang merupakan kalimat yang mengandung bersama dan menunjukkan kohesi telah diperoleh dari semua wacana yang ditemukan dalam Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes di Batak Toba Alkitab. Metode yang digunakan m penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa hubungannya dapat terdiri dari satu, dua atau lebih kata. Konjungsi dapat dikombinasikan dengan jenis lain dari kata dan hubungannya dengan lainnya. Setiap hubungannya telah dijelaskan sesuai dengan karakteristiknya. Sampel Batak Toba telah traslated ke Indonesia. Tapi tidak semua worls dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena mereka akan kehilangan makna Alkitab. Dapat disimpulkan penelitian ini telah memberikan sebuah ilustrasi menarik tentang kohesi, selama hampir setiap ayat Injil telah dihubungkan dengan konjungsi.

 

Kata kunci: penghubung, kohesi

 

KESEPADANAN MAKNA DALAM PENERJEMAHAN MODALITAS BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA

 

Susiyati

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

 

Abstract

The aim of this paper is to analyze the differences in meaning of modality in English (source language) expressed by modal words and its translation in Indonesian (target language).This paper applies a qualitative method. The samples taken are English sentences containing modality; specifically modal verbs: can, could, may, might, shall, should, ought to, must, will, would, and their translation in Indonesian. The results of the analysis are: first, 73,38% of modality in English translated into Indonesian has equivalent meaning; 4,83% of modality has natural meaning, 8,87% of modality translated into words which do not belong to Indonesian modality has natural meaning, 7,25% of modality translated into Indonesian modality has no equivalent meaning, 5,65% of modality translated into Indonesian neither has equivalent meaning nor belongs to Indonesian modality.

 

Keywords: Modality, meaning equal, natural meaning, the source language, target language

 

 

Abstrak

Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis perbedaan makna modalitas dalam bahasa Inggris (bahasa sumber) diungkapkan dengan kata-kata modal dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia (bahasa target). Makalah ini menggunakan metode kualitatif. Sampel yang diambil adalah kalimat bahasa Inggris yang mengandung modalitas, khusus verba modal: bisa, bisa, mungkin, mungkin, harus, harus, harus, harus, akan, akan, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hasil analisis adalah: pertama, 73,38% dari modalitas dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti setara, 4,83% dari modalitas memiliki arti alami, 8,87% dari modalitas diterjemahkan ke dalam kata-kata yang tidak dimiliki modalitas Indonesia memiliki makna alami, 7,25% dari modalitas diterjemahkan ke dalam modalitas Indonesia tidak memiliki arti sama, 5,65% dari modalitas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tidak memiliki arti sama atau milik modalitas Indonesia.

 

Kata kunci: Modalitas, makna sepadan, makna alami, bahasa sumber, bahasa sasaran

 

METODE HUMANISTIK DALAM PENGAJARAN BAHASA ASING

 

Karmawan

Fakultas Agama Islam

Universitas Islam Tanggerang

 

Abstract

Humanistic in education may sound too ambitious, because the term as if insinuating the concept of education in the full sense inhuman “atrocities” in it. In fact, in the context of education, more humanistic concept is a revision of the concept of education which emphasizes the development of intellectual potential. Humanism method considers that in addition to cognitive, affective aspects such as attitudes, feelings, interests, and motivation is an important and decisive part in the learning process so that students can appreciate the language as a whole individual in the process of language development.

 Keywords: humanistic, teaching, foreign language

 

Abtrak

Humanistik dalam dunia pendidikan mungkin terdengar terlalu ambisius, karena term tersebut seolah-olah menyindir konsep pendidikan yang tidak manusiawi dalam arti penuh “kekejaman” didalamnya. Padahal, dalam konteks pendidikan, konsep humanistik lebih merupakan revisi terhadap konsep pendidikan yang lebih menekankan kepada pengembangan potensi intelektual saja. Metode humanisme memandang bahwa di samping aspek kognitif, aspek afektif seperti sikap, perasaan, minat, dan motivasi merupakan bagian yang penting dan menentukan dalam proses pembelajaran bahasa agar siswa dapat menghargai sebagai individu yang utuh dalam proses pengembangan bahasanya.

 

Kata kunci: humanistik, pengajaran, bahasa asing

 

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN SASTRA

DALAM NOVEL SANU INFINITA KEMBAR KARYA MOTINGGO BUSYE

 

Taufik Nugroho

Faculty of Letter, Bina Nusantara University

 

Abstract

The purpose of this present paper is to explain the relationship between philosophy and literature in the novel Sanu lnfinita Kembar by Motinggo Busye. This paper consists of introduction,the similarities and differences between philosophy and literature, the relationship between philosophy and literature, synopsis of the novel, Sanu lnfinita Kembar: A Philosophical Novel, and conclusion.

 

Keywords: Philosophical, literature, novel

 

Abstrak

Tujuan dari makalah ini ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara filsafat dan sastra dalam novel Sanu lnfinita Kembar oleh Motinggo Busye. Makalah ini terdiri dari pendahuluan, persamaan dan perbedaan antara filsafat dan sastra, hubungan antara filsafat dan sastra, sinopsis novel, Sanu lnfinita Kembar: Sebuah Novel Filosofis, dan kesimpulan.

 

Kata Kunci: filsafat, sastra, novel.

 

ALIRAN ROMANTISME PUISI KHALIL MATHRAN

 

Maftuhah

Universitas Islam Attahiriyah Jakarta

 

Abstract

Khalil Mathran is a poet who combines the two streams between classical Arabic and the West. It uses model of the West in terms of content and titles sya’ir, while still maintaining the tradition of Arabic in terms uslub (style). Since its first school, Khalil actually has received the merger of two cultural elements in literary subjects between the Arab and European Romanticism particular flow. Arab looks very dominant element in the aspect of language and the rules of the language. When considered from several sya’ir made ​​by Khalil, confirmed he used lafadz-lafadz romance in it. Characteristics of Romanticism in poetry Romanticism Khalil similar to the general characteristics of the aspects of feeling, imagination, lafadz, and themes.

 Keywords: school, romance, poetry

 

Abstrak

Khalil Mathran merupakan salah seorang penyair yang menggabungkan dua aliran antara Arab klasik dengan Barat. Ia menggunakan model Barat dalam hal isi dan judul sya’ir, sementara tetap memelihara tradisi Arab dalam hal uslub (gaya bahasa). Sejak pertama kali bersekolah, Khalil sebetulnya telah menerima penggabungan dua unsur kebudayaan dalam pelajaran sastranya antara Arab dan Eropa khususnya aliran Romantisme. Unsur arab terlihat sangat dominan dalam aspek bahasa dan kaidah-kaidah bahasa. Apabila diperhatikan dari beberapa sya’ir yang dibuat oleh Khalil, dipastikan ia menggunakan lafadz-lafadz romantisme di dalamnya. Karakteristik Romantisme dalam puisi Khalil serupa dengan karakteristik Romantisme secara umum dari aspek perasaan, imajinasi, lafadz, dan tema.

 

Kata Kunci: aliran, romantisme, puisi

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan