MAPALA STBA Pertiwi Daki Gunung Guntur

 

 

Gunung guntur terletak di wilayah barat Garut Jawa Barat, gunung ini memiliki puncak dengan ketinggian 2.249 mdpl. Sebelum kami melakukan pendakian kami terlebih dahulu mencari informasi tentang jalur pendakian Gunung Guntur, dengan tujuan kami dapat melakukan pendakian ini dengan aman dan selamat. Setelah kami berhasil mendapatkan informasi yang menurut kami cukup dari para pendaki dan pecinta alam yang lain, kami melakukan pendakian Gunung Guntur ini melalui jalur citiis.

Perjalanan Tim Mapala STBA Pertiwi mulai dari gerbang desa Tanjung kidul, setelah kami mendapatkan ijin dari ketua Rt sekaligus tempat pendaftaran awal untuk melakukan pendakian di Gunung Guntur.

Perjalanan kami diawali dengan track menjak yang di penuhi dengan batu kerikil daerah perkebunan dan penambangan pasir. Sebelum kami bisa menuju puncak, sama dengan Gunung-gunung lainnya kami harus melewati beberapa pos pendakian. Pos pertama yang harus kami lewati terdapat di dekat air terjun citiis, disini kami beristirahat sejenak untuk melepaskan sedikit rasa lelah kami setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dari pos pendaftaran.

Setelah melewati pos pertama, kami disuguhi dengan track yang lumayan extreme, yaitu track memanjat bebatuan yang cukup curam dengan jurang disampingnya. Pos kedua terdapat di pertengahan track batu ini, disi kami pun beristirahat sambil mengisi tenaga kami dengan membuka cemilan yang kami bawa.

Perjalanan menuju pos terakhir yaitu pos ketiga, kami harus melewati daerah hutan yang di ikuti oleh padang ilalang yang gersang. Di pos ketiga kami membuka perbekalan kami untuk mengisi kembali tenaga kami yang hampir terkuras, sekaligus mengisi persediaan air kami di sungai temapat para pendaki mengisi persediaan air mereka, disini kami bertemu dengan salah satu kelompok teman kami sesama pendaki yang lebih berpengalaman dari kami.

Setelah kami beristirahat cukup lama di pos tekhir ini, kami melakukan perjalanan kami menuju puncak melewati track terakhir. Track ini bisa dibilang track paling sulit dan melelahkan daripada track lain yang telah kami lewati, track ini hanya jalan pasir berumput yang menanjak. Tetapi karena tinggi dan curamnya serta tidak mempunyai tempat ataupun benda untuk berpegangan, membuatnya sangat susah kami taklukan.

Pendakian di track terakhir ini sangatlah menguras tenaga , ditambah lagi salah satu rekan kami kakinya terkilir pada saat melakukan pendakian. Karena Mapala STBA Pertiwi kurang memiliki pengalaman untuk mengatasi hal ini, kami meminta bantuan dari salah satu teman kami yang memiliki kemampuan untuk memijat kaki yang terkilir. Setelah itu kami melanjutkan pendakian kami walaupun dengan salah satu kaki dari teman kami mengalami cidera.

Perjalan kami melambat karena cidera yang dialami oleh salah satu rekan kami, tetapi itu tidak menghalangi kami untuk bisa mencapai puncak dari Gunung Guntur. Dengan semangat dan sedikit dorongan yang kami berikan pada teman kami, akhirnya kami semua bisa mencpai puncak Gunung Guntur walaupun memerlukan waktu yang cukup lama.

Setelah mencapai puncak kami bergegas untuk mendirikan tenda dan memasak perbekalan yang kami bawa, disini kami bertemu dengan para pendaki lain. Kami dapat langsung berbaur dengan mereka karena kami para pendaki mengangap semua pendaki seperti keluarga, setelah kami berbagi cerita dan pengalaman, kami menyiapkan kayu bakar untuk menghangatkan diri dimalam yang dingin.

Malampun tiba kami pun bersiap-siap untuk beristirahat, semuanya masuk kedalam tenda untuk beristirahat dan memulihkan kembali tenaga yang sudah terkuras setelah seharian mendaki. Terkecuali saya dan salah satu teman saya yang berjaga untuk menghindari kejadian yang tidak kami inginkan.

Pagipun telah tiba dan kami mulai bersiap-siap untuk menyabut Sunrise pertama ditahun yang baru ini, rasa lelah yang kami alami seakan-akan langsung hilang karena telah terbayarkan oleh pemandangan yang luar biasa. Kami bagaikan berdiri diatas lautan putih tanpa ujung, tanpa ragu-ragu kami pun mulai mengambil foto pemandangan yang menakjubkan ini, tanpa lupa berfoto bersama untuk kenang-kenangan sebagai salah satu moment berharga bagi kami.

Udara yang sejuk,angin yang dingin, ditambah pemandangan yang mengagumkan, semuanya menjadi obat rasa lelah kami dan juga obat untuk menghilangkan rasa penak kami. Kami sangat bersyukur kami dapat menikmati maha karya sang Pencipta, dan ini membuat kami untuk ingin merawat dan menjaganya sehingga selalu terjaga keasriannya.

Siangpun telah tiba, saatnya semua Awak Mapala STBA Pertiwi untuk bersiap-siap melakukan perjalanan turun. Setelah kami membereskan peralatan kami dan juga memungut sampah-sampah yang tertinggal oleh pendaki lain, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Pada saat melakukan penurunan slah satu teman kami terjatuh dan kakinya terkilir, jadi kami memutuskan untuk beristirahat di pos ketiga untuk sedikit mengobati rasa sakitnya.

Setelah kami beristirahat kami kembali melalanjutkan perjalanan pulang kami, perjalanan pulang kami lalui lebih cepat dari pada waktu pendakian. Tetapi tetap menguras tenaga karena track yang lumayan panjang dan extreme. Dan pada sore hari kami akhirnya sampai di base camp kaki gunung yang menandakan selesainya pendakian kami kali ini.

Change from Good to Great

 

 

Ketika ada ide perubahan hampir semua selalu  ada penolakan dan setiap aksi selalu menimbulkan reaksi, begitupula dengan ide perubahan, setelah penolakan tidak membuahkan hasil, cukup sering ide penolakan membuahkan perlawanan. Ini sejalan dengan Law Of Motion yang diajarkan Isaac Newton, ungkapan tersebut mengalir bersama dengan Trainer  Makfud Irfan.

Berikut adalah 8 Langkah Perubahan atau  Transformasi Organisasi yang disampaikan oleh Kotter yang dikenal dengan Kotter’s 8 Steps Changes Model

  1. Create & Sense of Urgency, Menumbuhkan ‘sense of urgency’ dimana setiap orang akan merasa terdorong untuk segera melakukan perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan jika ditemukannya alasan/faktor yang benar-benar kuat mengapa perubahan perlu dilakukan. Untuk itu perlu ditunjukkan fakta/ data yang dapat dilihat, dirasakan, disentuh agar orang-orang mau dan merasa perlu untuk berubah. Jika orang tidak melihat adanya data/fakta bahwa mereka harus berubah maka yang terjadi adalah orang-orang tidak akan mau berubah. Mereka akan tetap berada di zona nyaman karena mereka merasa tidak ada alasan yang kuat untuk berubah. Harus ada rasa ‘keterdesakan’ yang bisa dilihat selain oleh pemimpin juga oleh orang yang dipimpinnya.

Apa yang dapat Anda lakukan:

  • Mengidentifikasi ancaman potensial, dan mengembangkan skenario yang menunjukkan apa yang bisa terjadi di masa depan.
  • Periksa peluang yang harus, atau dapat, dieksploitasi.
  • Mulai diskusi jujur, dan memberikan alasan dinamis dan meyakinkan untuk membuat orang berbicara dan berpikir.
  • Permintaan dukungan dari pelanggan, stakeholder luar dan orang-orang industri untuk memperkuat argumen Anda.

2. Build The Leadership  team, membantu pembentukan kelompok yang akan memandu proses perubahan (change agents) yang mempunyai kapabilitas yang memadai baik dari sisi anggota kelompok maupun metode pelaksanaannya. Untuk berubah diperlukan orang-orang yang yakin bahwa perubahan akan mengarah ke arah yang lebih baik. Karena itu perlu dibentuk kelompok yang tugasnya menunjukkan antusiasme, komitmen, kepercayaan bahwa dengan perubahan yang akan dilakukan akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Mereka inilah agen-agen perubahan yang akan mendorong orang-orang disekitarnya untuk mendukung jalannya perubahan. Karena itu perlu dilakukan komunikasi yang rutin dengan para agen ini agar memantapkan tujuan perubahan, saling mendukung dan meminimalisir rasa frustasi yang mungkin timbul.

3. Get The Vision Right, yang sudah ada harus diterjemahkan dalam bentuk strategi yang menantang untuk dilaksanakan. Tanpa visi yang jelas, tidak akan ada yang mau mengikuti arah perubahan yang diusung, kalau pun ada, di tengah jalan mereka akan kehilangan arah. Visi ini harus dapat dipilah-pilah dalam time frame yang jelas, apakah tahunan, semesteran, atau triwulan serta dengan melihat pula kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dengan demikian setiap orang akan dapat melihat arah yang jelas mengenai tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam bentuk implementasi sehari-hari.

4. Communicate for Buy-In, Visi dan strategi yang disampaikan harus komunikasikan sehingga terjadi kesamaan dan pemahaman yang baik serta dapat diterima di seluruh jajaran. Visi yang baik harus terkomunikasi dengan jelas dan terarah. Dan yang penting adalah bentuknya tulus, sederhana, tidak rumit serta memberikan contoh nyata (role model) akan visi yang sudah diaplikasikan. Perbaikilah saluran-saluran komunikasi yang digunakan sehingga pesan-pesan yang tidak perlu dapat dieliminir. Dan dapat pula digunakan teknologi untuk membantu mempercepat proses komunikasi (situs resmi, internal email blast, dll). Komunikasi yang baik dapat dilakukan dengan cara: content (metaphor, analogy, simplicity, stories, etc) & context (repetition, multiple forums, role model, events, etc)

5. Mobilise the Organisatio, mengatasi secara efektif rintangan-rintangan yang timbul yang dapat memantapkan pengalaman dalam mengelola perubahan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu perlu juga dukungan dalam bentuk alat-alat (resources) yang memadai agar semua orang dapat bertindak untuk mencapai visi. Termasuk pula adalah dorongan agar team mampu keluar dari pola pikir standar dan dapat ‘keluar’ mengambil langkah-langkah terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

6. Create Short Term Wins, Meraih kemenangan-kemenangan kecil /jangka pendek. Karena perubahan pada umumnya tidak dapat dicapai dalam tempo yang singkat maka dibutuhkanlah milestone-milestone kecil untuk memberi tanda sudah sampai dimana proses perubahan yang dijalankan. Karena itu dibutuhkanlah perayaan-perayaan kecil  (short term wins) dalam bentuk pemberian penghargaan  agar semangat para pengusung roda perubahan ini dapat terus dijaga agar tidak redup. Adalah perlu untuk terus mengupayakan agar semangat para pendukung perubahan ini tetap menyala karena proses perubahan menuntut stamina fisik & mental dalam waktu yang panjang. Selain itu, short term wins ini juga memberi isyarat kepada mereka yang belum ‘bergabung’ untuk dapat bergabung karena inilah ‘jalan’ yang ‘benar’. Akan jauh lebih baik jika ‘perayaan’ meraih kemenangan kecil ini dilakukan dalam exposure yang luas sehingga ada banyak orang yang menyaksikan sehingga pada penerima penghargaan ini dapat lebih percaya diri, mantap dan semakin yakin akan arah yang di tuju.

7. Embed it into the Culture, Jangan berhenti, lanjutkan terus proses perubahan sebelum visi terwujud. Lakukan terus upaya untuk meningkatkan sense of urgency sehingga nyala api perubahan tidak redup di tengah jalan. Selalu tunjukkanlah bahwa proses perubahan ini masih akan berlanjut sapai tercapainya visi yang dicanangkan. Tetapi, haruslah dicatat bahwa proses ini jangan sampai membuat kondisi fisik dan emosi terganggu dan mengorbankan kepentingan pribadi, karena dalam jangka panjang jika ini terjadi, yang mendapatkan imbasnya adalah proses perubahan itu sendiri. Gunakanlah momentum-momentum, seperti misalnya pada perayaan hari jadi perusahaan / peringatan hari besar sebagai alat bantu untuk mengkomunikasikan bahwa perubahan belum selesai. Lakukanlah -jika perlu- perubahan sistem, struktur, kebijakan-kebijakan, prosedur hingga kultur organisasi sehingga sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

8. Make change stick, Pastikanlah agar perubahan tertanam sebagai budaya perusahaan sehingga perubahan benar-benar mengakar sampai ke struktur organisasi yang paling bawah. John P. Kotter mengingatkan, bila satu saja tahapan itu dilewati, maka kita hanya akan menghasilkan apa yang disebutnya sebagai “illusion of speed(kecepatan maya) yang dapat menghasilkan perubahan yang tidak sempurna.

Pesan penutup Dari Ketua STBA Pertiwi bahwa “Anda harus bekerja keras untuk mengubah sebuah organisasi berhasil. Ketika Anda merencanakan dengan hati-hati dan membangun pondasi yang tepat, mengimplementasikan perubahan dapat lebih mudah, dan Anda akan meningkatkan peluang keberhasilan. Jika Anda terlalu sabar, dan jika Anda mengharapkan hasil terlalu banyak terlalu cepat, rencana Anda untuk perubahan lebih mungkin untuk gagal. Dan Didi Mulyadi. SS., MM menambahkan dalam sambutannya Menciptakan rasa urgensi, merekrut para pemimpin perubahan yang kuat, membangun visi dan efektif berkomunikasi  itu, menghilangkan hambatan, membuat kemenangan cepat, dan membangun momentum Anda. Jika Anda melakukan hal ini, Anda dapat membantu membuat bagian perubahan budaya organisasi Anda. Saat itulah Anda dapat mendeklarasikan kemenangan sejati. kemudian duduk kembali dan menikmati perubahan yang Anda membayangkan begitu lama lalu.

Semoga Perubahan yang kita canangkan di STBA PERTIWI dapat menambah nilai tambah terhadap proses belajar mengajar, Layanan kepada Mahasiswa.

Amin