The Meaning of Kartini’s Emansipation to Day

Habis gelap terbitlah terang.Mungkin jika terang cahayanya akan memudar, masih adakah di era yang katanya Globalisasi ini, mengaplikasikan sosok sang pahlawan Kartini dalam kehidupan sehari –harinya? Pertanyaan yang muncul di benak kita sekarang ini adalah. Apakah kaum pelajar sekarang masih mengidolakan kartini? Jawabannya hanya ada di masing-masing tiap-tiap individu. Mungkin jawabannya setiap individu berbeda. Dimana sebagian dari mereka ada yang melupakan, mengingat bahkan mungkin juga tak mengenal sosoknya. Padahal Kartini adalah sosok wanita yang patut menjadi tauladan, dimana setiap tingkah lakunya adalah cerminan diri pelajar  Indonesia yang fleksibel dan dinamis, dimana ia memperjuangkan emansipasi wanita  dan juga kaum pembelajar. Tetapi tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita, menjadikan wanita Indonesia lebih di hargai oleh kaum lelaki. Namun sekarang pada kenyataannya untuk apakah perayaan hari kartini ! 

Perempuan yang diklaim dan dikonstruksi sebagai sosok yang hanya berkecimpung di ranah domestic, kini lebih mampu menunjukkan geliatnya di ranah publik. Tentu tidak heran, bila perjuangan Kartini tersebut dapat dinikmati oleh perempuan saat ini, meski memang pada kenyataannya masalah mengenai marginalisasi perempuan masih acapkali terjadi. Terlepas dari hal tersebut, konteks pemaknaan Hari Kartini saat ini cenderung memiliki pergeseran dan tereduksi. Bila kita meninjau realita, Hari Kartini seringkali diidentikkan dengan pemakaian kebaya, sanggul, dan kegiatan-kegiatan yang cenderung semakin mengkerdilkan esensi makna yang sesungguhnya. Hal-hal demikian justru semakin mengukuhkan sterotipe bahwa perempuan hanya berkutat di ranah domestic. Klaim tersebut hendaknya menjadi satu refleksi untuk kembali meneguhkan makna Hari Kartini yang sepatutnya dihargai sebagai perjuangan emansipasi. Lagi-lagi, bukan emansipasi yang justru mengelontorkan pada kesalahpahaman pemikiran yang mengklaim persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Melainkan sebuah wujud kebebasan perempuan dalam menentukan secara subjektif keinginannya untuk dapat mengeksplorasi diri. Artinya, manakala seorang perempuan memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kesadaran matang, tanpa paksaan sehingga disana ia mampu menemukan dirinya, maka hal tersebut sebenarnya sudah merupakan bentuk dari emansipasi. Begitu juga sebaliknya, tatkala seorang perempuan ingin bereksistensi di ruang publik, tanpa paksaan dengan tetap memperhatikan peran dan nilainya sebagai seorang ibu dan perempuan, maka hal tersebut sudah perwujudan dari emansipasi.Sehingga pada perayaan hari Kartini ini, seyogyanya kita bisa merefleksi diri menjadi seorang perempuan yang memiliki nurani untuk terus berkarya dan bereksistensi hingga ke masa depan
Beberapa aplikasi semangat serta perjuangan yang telah dilakukan Kartini semasa hidupnya yang bisa kita contoh, diantaranya :

1.      Berjiwa Religius

Kartini dengan kekritisannya bisa mendongkrak kemajuan beragama yang kala itu diwarnai dengan semangat puritanisme jawa dan kemampuan penjajah menciptakan dan menggunakan ‘ketakutan-ketakutan’ beberapa kyai untuk mengungkap fakta beragama agar terlihat sakral dan tabu untuk dipelajari lebih dalam lagi.

Dengan hal tersebut, kaum mahasiswa saat ini sebaiknya memiliki keinginan kuat untuk  kembali pada semangat religius yang mantap, belajar dan terus menggali lagi ilmu agama yang mereka yakini, sehingga diharapkan pelajar sekarang bisa menjadi pelajar yang berpikiran luas, namun tetap memiliki jiwa religius.

2.       Semangat Pembelajar

Kartini memberikan semangat pembelajar yang luar biasa hebatnya bagi kita. Semangat untuk mencari ilmu, mencermati dan bertanya kepada semua orang tentang apa yang belum beliau ketahui patutlah kita contoh. Peringatan-peringatan hari Kartini harusnya berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang bermutu dan mendorong semangat para pelajar untuk tidak putus asa dalam mencari ilmu.

3.       Kepekaan Sosial Terhadap Sesama

Kartini bisa memberikan inspirasi bagi semua rakyat Indonesia khususnya para mahasiswa STBA PERTIWI untuk memiliki kepekaan sosial terhadap persoalan-persoalan yang ada disekitarnya.  Pemikiran Kartini untuk menyuntikkan semangat melawan penjajah dari sudut pandang pendidikan dan perubahan sosial memiliki efek jangka panjang.

Saatnya kaum pembelajar berjalan disekitar masyarakatnya untuk  mengamati dan berbuat lebih banyak bagi  lingkungan dan sesamanya serta membangkitkan nuansa semangat Kartini yang dulu pernah dirasakan.

4.       Memiliki Moral Yang Baik

Masalah sosial bangsa Indonesia saat ini adalah kemerosotan moral yang tak dapat dielakkan lagi. Kartini pastinya tidak pernah mengharapkan kaum terpelajar yang tidak bermoral, meninggalkan nilai-nilai moral dan tatanan ketimuran. Banyak bagian yang harus diperbaiki oleh para pembelajar di zaman sekarang. Pelajarlah yang semestinya dapat mengusung perbaikan moral itu. Kaum pembelajar diharapkan memiliki moralitas tinggi, dedikasi terhadap perbaikan moral, dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat untuk membenahi diri dan masyarakatnya melalui sikap nyata mereka di segala bidang.

Donor Darah Bersama STBA Pertiwi

 

 

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi kembali menggelar kegiatan donor darah. Sabtu 4 April aksi sosial ini dilaksanakan di  Gedung BBC-ETS Karawang, Jalan Kertabumi No.1 – 2, Karawang, dan berhasil mengumpulkan puluhan kantong darah dari para mahasiswa dan dosen.

Selanjutnya darah tersebut disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Karawang.
Kegiatan donor darah ini merupakan hasil kerja sama PMI Karawang dengan STBA PERTIWI (Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi) STIE PERTIWI dan BBC English Training Specialist. Dihadiri  Didi Mulyadi,SS.,MM  Ketua STBA PERTIWI dan Kriwanda,SS., M.Hum selaku Ketua Pelaksana kegiatan Donor Darah mengatakan, Unit Perguruan Tinggi di lingkungan Pertiwi  selama ini memang sangat konsisten membantu PMI baik itu PMI Karawang, PMI Bekasi Maupun PMI Jakarta Timur untuk mengurangi beban dan membantu  mencari darah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Hampir setiap 6 bulan sekali setiap kampus  menggelar kegiatan donor darah karena rata-rata kebutuhan darah setiap bulannya meningkat. Dalam setahun ada enam kali kita melakukannya,” seperti yang di sampaikan oleh Wakil Ketua II stba pertiwi Abdilah,SE.,MM.

Dikatakan Wakil Ketua II, mendonorkan darah memiliki banyak manfaat di antaranya bisa merangsang sumsum tulang tetap keadaan aktif. Darah yang didonorkan sekitar 350 cc akan digantikan dengan 350 cc darah baru yang mempunyai fungsi dan kekuatan lebih optimal guna mengangkut nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh sehingga tubuh secara umum akan terjaga kesehatannya.

“Mendonorkan darah juga berguna untuk pemeliharaan fungsi jantung, sebab jumlah darah yang terlalu banyak dapat membebani jantung. Saat sumsum tulang panjang memproduksi sel darah, bukan hanya sel darah merah yang dibuat, tapi juga semua sel darah berserta komponennya,” ucapnya.

Didi Mulyadi,SS,.MM  yang turut hadir sekaligus mendonorkan darahnya pada kegiatan ini mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat lainnya.
Menurut Ketua Stba Pertiwi, aksi donor tersebut juga bertujuan untuk menanamkan jiwa sosial kepada masyarakat, melatih diri menjalankan aksi sosial bagi sesama.

“Ini sangat membantu proses pembelajaran dalam hal kegiatan sosial. Donor darah, adalah bentuk keprihatinan kita semuanya atas kekurangan darah segar yang selalu dialami PMI,” ucapnya.

Atas pelaksana ini kami ucapkan banyak terimakasih kepada para dosen, Mahasiswa, karyawan dan masyarakat setempat yang berpartisipasi aktif dalam mensukseskan kegiatan ini, semoga dalam kegiatan yang akan datang kami masih berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan Masyarakat luas. Amin