Pertiwi Peduli Banjir Jakarta

Hampir keseluruhan warga Jakarta mengenal siklus banjir lima tahunan, dalam catatan sejarah banjir di wilayah Jakarta, sejak tahun 1621 terjadi banjir besar di Jakarta, kemudian disusul tahun 1654, 1873 dan tahun 1918 pada zaman kolonial. Pada periode akhir, banjir besar sempat terjadi pada tahun 1979, 1996, 2002, 2007 dan belum lama ini akhir tahun 2012 atau awal 2013.

Melihat data banjir yang melanda Ibu Kota pada 1996, 2002, dan 2007, akhir tahun 2012 membuat banyak masyarakat yang memperkuat bahwa siklus banjir di Jakarta itu 5 tahun sekali. Tetapi awal 2014 ini sebagian wilayah Jakarta sudah terendam banjir akibat hujan lebat yang terus melanda di musim penghujan.

Hujan sepanjang hari di Bogor dan Depok membuat debit air di bendungan Katulampa meninggi, hal tersebut membuat penjaga pintu air Katulampa harus membuka gerbang untuk menstabilkan ketinggian air di bendungan tersebut. Akibatnya, aliran air tersebut membuat sungai Ciliwung meluap, hingga membuat banjir di wilayah Kampung Rawa Sepat, Cililitan Kecil, Jakarta Timur, terendam hingga mencapai pinggang orang dewasa. bahkan ketika puncak banjir akhir pekan lalu, ketinggian air mencapai 3 meter.

Kampus Pertiwi Cililitan yang berada dekat dengan lokasi banjir tersebut melakukan aksi cepat tanggap, bekerja sama dengan Tim SAR BNPB mengevakuasi korban bencana banjir pada tahun 2014 ini ke Kampus Pertiwi yang berlokasi di Jl. Dewi Sartika Kav 2-3 Cililitan, Jakarta Timur.

Perguruan Tinggi yang memiliki unit Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dan Akademi Pariwisata (AKPAR) ini, setiap tahun jika terjadi bencana banjir di Jakarta, kampus ini melakukan aksi cepat tanggap terhadap kejadian tersebut dengan membuka lebar kepada warga yang terkena bencana untuk mengungsi di kampus ini.

Kondisi banjir yang membuat warga terpaksa meninggalkan pemukimannya, membuat banyak warga yang tidak sempat membawa barang-barangnya. Jadi, terpaksa mereka harus tinggal dengan kondisi seadanya. Anak-anak yang sehari-harinya harus bersekolah terpaksa harus meliburkan diri, karena seragam dan peralatan sekolahnya tidak sempat di bawa saat mengungsi.

Pada saat kondisi banjir, kampus pertiwi selalu membuka posko aksi cepat tanggap penanggulangan bencana, selain menampung warga yang terkena musibah banjir, kampus ini juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak korban banjir tersebut. Anak-anak diberikan pelatihan Bahasa Inggris dengan penyampaian yang kreatif dan menyenangkan, dari para mahasiswa Perguruan Tinggi Pertiwi.

Kegiatan yang diberi tema “Pertiwi Peduli Pendidikan” English Community Program For Kids ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dari Perguruan Tinggi Pertiwi. Semoga kegiatan yang mulia ini dapat ditiru oleh institusi lainnnya. Agar dapat meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap sesama.

Donor Darah Perguruan Tinggi Pertiwi Cililitan

Sabtu (21/12/13), Perguruan Tinggi Pertiwi (STIE, STBA, AKPAR, & LPPM PERTIWI) bekerja sama dengan PMI cabang Jakarta Timur mengadakan acara kegiatan Donor Darah dengan tema “DARAH = CINTA SESAMA”. Darah yang  merupakan salah satu komponen paling penting di dalam tubuh, mengingat fungsinya sebagai alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah penyakit dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa penyakit lainnya. Kondisi ini tentu menuntut instansi yang terkait, seperti PMI dan rumah sakit, untuk selalu memiliki persediaan darah yang mencukupi. Namun ironisnya tak jarang kita temukan kasus kurangnya kantong darah di rumah sakit sementara kebutuhan akan darah terus meningkat.

Oleh karena itu Perguruan Tinggi Pertiwi bersama dengan PMI cabang Jakarta Timur selalu mengadakan kegiatan rutin donor darah untuk mahasiswa dan umum. Pada kegiatan donor darah kali ini, acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 11.00 WIB.

Donor darah, selain bermanfaat bagi penerima juga memiliki manfaat bagi pendonor, antara lain:

Produksi sel baru
Mendonorkan darah dapat merangsang sumsum tulang belakang Anda untuk memproduksi sel baru. Dengan kata lain, donor darah mengambil darah yang lama untuk diganti sel baru atau regenerasi sel darah.

Mencegah Radikal Bebas
Donor darah menjaga kadar zat besi dalam tubuh agar tetap normal. “Kalau zat besi berlebihan maka hasil akhir radikal bebas (sifatnya karsinogenik). Kondisi ini dapat berpotensi menjadi kanker,” kata dr Yuyun.

Menghindari risiko kardiovaskular
Bagi Anda yang rutin mendonorkan darah boleh bersuka cita. Pasalnya, donor darah dapat memicu metabolisme agar aliran darah tetap lancar. Sehingga tak ada lagi penyumbatan darah pada pembuluh darah. Dengan demikian, risiko terserang peyakit jantung dan stroke berkurang.

Karena banyaknya manfaat yang diperoleh serta sebagai bukti kepedulian bagi sesama, Perguruan Tinggi bersama dengan PMI berharap kegiatan rutin ini dapat terus berjalan untuk kedepannya. (LPPM)

Tim Penyunting

Ketua Penyunting

H. Suharsono

Penyunting Pelaksana

Ekawati Susiyati

Anggota Tim Penyunting

Wulansari

Revida Engelbertha

Deni Wrestiningsih

Rekno Setiawan

 

Foto Pengurus LPPM Pertiwi 

Jurnal Vol 5 No 2 Oktober 2011

Jurnal Langue, Oktober 2011 Vol. 5 No.2

ISSN: 1693-0487

 

STRATEGI PENGEMBANGAN SEKOLAH

BERTARAF INTERNASIONAL

 

Fuad Fachruddin

Pasca Sarjana UIN Syarief Hidayatullah Jakarta

Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat, Tanggerang Selatan

 

Syamsir Alam

Pasca Sarjana UHAMKA Jakarta

Jl. Tanah Merdeka, Jakarta Timur

 

Abstract

Youngsters need to have the opportunity to develop their potential to the maximum in a favorable environment so that they have the ability to compete globally. This paper discusses, elaborates, and at the same time, tries to offer theoritical models of developing Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) that would be able to serve all the needs in question. To provide a clearer picture and understanding of international qualification program, best practices of

Kelas Internasional at a number of SMA Negeri DKI Jakarta are also discussed. This paper applies library research. Articles and publications are the source of the informantion an listed as the references. The aim of this paper is to describe the importance of having a change in our paradigm in managing the educational policy and accomplishing national education to enable our senior high school graduates to face any challenges in the 21stcentury that changes rapidly. Specifically, this paper describes models of running international schools as the basic of the development of international program from elementary to senior high school in Indonesia. Transforming regular schools into ”rintisan

sekolah bertaraf internasional” (RSBI) as well as RSBI into ”sekolah bertaraf internasional

(SBI) are the best ways to develop SBI. The function of RSBI is as the centre of the study and

the development of educators’ competence (SPKPKP) or sister schools. RSBI/SBI are the role

models of schools nearby to improve their quality of learning.

 

Key words: development strategy, international class.

 

Abstrak

Kaum remaja membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan potensi semaksimal mungkin dalam lingkungan yang menyenangkan agar mereka mampu bersaing secara global. Tulisan ini menguraikan secara teoritis tentang model-model pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang diharapkan dapat menyediakan segala kebutuhan mereka. Penyelenggaraan kelas internasional dibeberapa SMA Negeri DKI Jakarta juga diuraikan dalam tulisan ini agar pemahaman program kualifikasi internasional menjadi lebih jelas.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran (perspektif alternatif) akan pentingnya perubahan paradigma dalam mengelola kebijakan dan melaksanakan pendidikan nasional agar lulusan pendidikan kita mampu menghadapi setiap perubahan dan tantangan di abad ke-21, yang terus berubah dengan cepat ini. Secara lebih khusus, tulisan ini bertujuan untuk menyajikan beberapa model pengelolaan pendidikan internasional, yang dapat dipakai sebagai dasar untuk pengembangan program internasional pada pendidikan dasar dan menengah di tanah air. Pengembangan SBI dapat dimulai dengan transformasi sekolah biasa mejadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) kemudian transformasi RSBI menjadi SBI. RSBI mempunyai fungsi sebagai sekolah pusat kajian dan peningkatan kompetensi pendidik (SPKPKP) atau semacam sekolah pendamping (sister schools), di mana RSBI/SBI menjadi pendamping sekolah-sekolah sekitar dalam program pengembangan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

 

Kata Kunci: strategi pengembangan, kelas internasional

 

 

AROGANSI PENGUASA DALAM PUISI KARYA AGUS R. SARJONO,

PADA SUATU HARI DARI PENDEKATAN STILISTIKA

 

Wulansari

Sekolah Tinggi Bahasa Asing PERTIWI

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

Interpreting a poem through a certain literary criticism will the readers to get its comprehensive understanding. This study also tries to dig the deepest meaning of Agus R Sarjono’s poem entitled Pada Suatu Hari from its intrinsic elements and language style. The aim of this study is to dicuss the general and detailed meanings of the poem which implies its theme on the arrogance of the superior power through its stanzas and lyrics. The method used to analyze is stylistics which emphazises its discussion on the language styles chosen by the poet. The arrogance and the superiority complex of the authoritarian leader will be traced back through its powerful figurative language, like personification and repetitions.

 

Key Words: Stylistics, the arrogance of authoritarian power, figurative language, personification, repetition.

 

Abstrak

Menginterpretasikan satu puisi melalui pendekatan sastra yang tepat akan mempermudah pembacanya untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh. Penelitian ini juga berusaha menggali makna terdalam dari sebuah puisi berjudul Pada Suatu Hari karya Agus R Sarjono melalui aspek intrinsik dan gaya bahasanya. Tujuan dari penelitian ini adalah membahas arti umum dan khusus dari puisi yang menyiratkan tema tentang kesombongan sang penguasa yang otoriter melalui bahasa kiasan yang kuat seperti gaya bahasa personifikasi dan pengulangan kata.

 

Kata Kunci: stilistika, arogansi kekuasaan, bahasa kiasan, personifikasi, pengulangan.

 

MAJÂZ AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

(Studi Perbandingan antara Abi Ubaidah, al-Jahizh dan Qadhi ‘Abdul Jabbar)

 

Ekawati

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

The aims of this paper are: (1) to analyze the paradigm of Abi Ubaidah, al-jahizh and Qadhi ‘Abdul Jabbar about the metaphors of Koran from the historical point of view. (2) to interpret and describe metaphors analytically as one of the aesthetics of language styles in Koran. This paper applies qualitative approach to discuss the proble as well as library research with comparative and comprehensive analysis method. If means that to know the paradigm of “mufassir” about metaphors in Koran, the writer should know the similarities and difference between or among “mufassir’s opinions, especially in the interpretation of controversial verses. To obtain the data of three “mufassir” the writer uses historical approach. Abi Ubaidah and al-Farra’ have agreat distribution in revelaing the secret of the verses in Koran, especially the meaning of metaphors. Both “mufassir” are the pioneers and inspirators to the next followers such as Al-Jahizh, Ubnu Qutaibah and Al-Qodhi, ‘Abdul Jabbar. The result of their thoughts will be inherited to the next generation as the medium of streng their belifs .

 

Key Words: majâz, sejarah, al-Qur’an

 

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk (1) mengkaji cara pandang Abi Ubaidah, al-Jahizh dan al-Qadhi ‘Abdul Jabbar tentang majâz al-Qur’an ditinjau dari perspektif sejarah. (2) menginterpretasi atau mendeskripsikan secara analitis tentang Majâz sebagai salah satu bentuk keindahan gaya bahasa al-Qur’an. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dan untuk membahas persoalan yang ada dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan metode analisis komprehensif dan komparatif. Artinya, untuk mengetahui cara bergulirnya pandangan para mufassir tentang majâz dalam al-Qur’an, terlebih dahulu harus dilihat segi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih pendapat mereka pada lafazh atau ayat yang diperselisihkan penafsirannya. Dan Untuk mendapatkan data mengenai ketiga tokoh tersebut, digunakan pendekatan sejarah. Abi Ubaidah dan al-Farra’ memiliki andil yang cukup besar dalam menguak rahasia kandungan susunan kalimat baik al-Qur’an maupun bahasa Arab dalam pengertian majâzî-nya. Keduanya merupakan pioner dan pembawa obor bagi generasi selanjutnya seperti al-Jahizh, Ibnu Qutaibah, dan Qadhi ‘Abdul jabbar. Di mana dari hasil dari kedua pemikir tersebut, generasi selanjutnya dapat menjadikan ta’wîl al-Qur’an sebagai media memperteguh iman mereka.

 

Kata Kunci: majâz, sejarah, al-Qur’an

 

ANALISIS KETAKTERJEMAHAN BUDAYA DARI BAHASA INDONESIA KE

DALAM BAHASA INGGRIS DALAM BUKU “ASAL MULA PADI” KARYA

HARDJANA H.P.

 

Susiyati

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

In translating a text from a source language to a target language a translator does not only have difficulties in linguistics problems but also cultures of both languages. The aim of this paper is to know how far a translator of a book entitled “Asal Mula Padi” is able to translate culturally specific references in Indonesian into English. The writer applies library research to discuss the problem as well as to analyze the data taken from the book. The result of the analysis shows that the translator of the book didn’t translate some words which have something to do with culture in Indonesian into English. Cultural concepts in the source language are difficult to translate in the target language due to geographical, cultural, contextual differences.

 

Key words: untranslatability, culture

 

Abstrak

Dalam menerjemahkan suatu teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran seorang penerjemah tidak hanya dihadapkan pada masalah yang berhubungan dengan masalah bahasa tetapi juga masalah yang berhubungan dengan budaya kedua bahasa itu. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penerjemah buku “Asal Mula Padi”. Hardjana H.P. mampu menerjemahkan istilah khusus yang berhubungan dengan budaya Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Penulis menggunakan studi pustaka untuk membahas

masalah ini dan juga untuk menganalisis data yang diambil dari buku tersebut di atas. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerjemah buku tersebut tidak menerjemahkan beberapa kata yang berhubungan dengan budaya dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Konsep konsep budaya dalam bahasa sumber sulit diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran karena perbedaan geografis, budaya dan konteks.

 

Key words: ketakterjemahan, budaya

 

THE STUNNING BEAUTY OF A JAPANESE GIRL AND

HER STRUGGLE TO REACH OUT HER GREAT EXPECTATIONS IN ROB

MARSHALL’S FILM MEMOIRS OF A GEISHA

 

Revida Engelbertha

Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

 

Abstract

The main character of Rob Marshall’s film, ‘Memoirs of a Geisha’ makes a hard effort to change her life better by being a geisha. Being poor, repaying the kindness of a Chairman who gives good advices when she becomes an orphan, and the honored role of a geisha in Japan are the factors why she wants to change her life to become an honored geisha. The aim of this paper is to discuss the struggle of the main character to defend her self-esteem in order to reach out her expectation to be an honored geisha. She must be able to face up the obstacles that come from friends and her clients. A geisha must also have a good personality and behavior to be an honored geisha. By analyzing the personality of each character, we can learn that culture of a country can change someone’s life to be better by working hard and doing best effort to get the best result of his or her expectations.

 

Key words: struggle, geisha

 

Abstrak

Tokoh utama dari film garapan Rob Marshall’s, ‘Memoirs of a Geisha’ berusaha sekuat tenaga

untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan menjadi seorang ‘geisha’. Kemiskinan, keinginan untuk membalas budi kepada orang yang selalu memberinya nasehat di panti asuhan dan peran seorang geisha yang terhormat merupakan alasan tokoh utama film ini bertekad menjadi geisha. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji perjuangan tokoh utama dalam merealisir harapannya menjadi seorang geisha. Dia harus mampu menghadapi rintangan-rintangan baik yang datang dari teman-teman maupun dari para pelanggannya. Seorang geisha yang terhormat harus memiliki kepribadian dan perilaku yang baik. Dengan menganalisis kepribadian dari setiap karakter, kita dapat memahami bahwa budaya dari suatu negara dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik dengan cara bekerja keras untuk mencapai harapannya.

Kata kunci: perjuangan, geisha

Jurnal Vol 5 No 1 Februari 2011

Jurnal Langue, Februari 2011 Vol 5 No. 1

ISSN: 1693-0487

 

KLIMAKS DRAMA OTHELLO

 

Awidyo Sasmito

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

This paper is aimed to answer the question what the climax of the play is. Climax which is a part of a plot is not so easy to see. A strong disagreement of something is regarded as a conflict. Climax is an unsettled conflict. Climax is the point of the greatest interest or excitement of a play. There are many climaxes which appear in this classical drama. Deciding the main climax from the sub ones is a hard thing to do but a careful examination of the criteria may help. Structural approach that analyzes the intrinsic elements is a way to cope the problems. The actions of the main character are the data of observation and this kind of observation belongs to qualitative methodology. By analyzing the unsolved climaxes the writer manages to identify the appropriate climax supported by plausible evidences. Climax is the end of the rising action because it constitutes a major turning in the play. The hero makes a decision or makes some important discovery about himself or others in the play. The act of making a decision which interrupts the story of the play is called climax.

 

Key words: climax, Othello drama.

 

Abstrak

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan dimana klimaks dari drama Othello. Klimaks yang merupakan bagian dari sebuah plot tidak mudah dikenali. Adanya sebuah ketidaksepakatan terhadap sesuatu merupakan sebuah konflik yang merupakan bagian terpenting dari sebuah drama. Sebuah drama mempunyai banyak konflik. Menentukan konflik utama dari sekian banyak konflik merupakan hal yang tidak mudah tetapi dengan memahami kriteria konflik dengan seksama sangat membantu dalam menentukan konflik. Pendekatan structural yang membahas unsur-unsur di dalam drama itu sendiri merupakan jalan untuk mengatasi masalah. Tingkah laku dari tokoh utama merupakan data observasi peneliti karena itu tulisan ini menerapkan metode kualitatif. Dengan menganalisis masalah-masalah yang tak terpecahkan penulis dapat menemukan klimaks yang didukung oleh data yang dapat diperyanggungjawabkan. Klimaks adalah sebuah tindakan yang berada diujung masa rising action yang merupakan titik balik. Tokoh utama membuat keputusan atau menemukan sesuatu tentang dirinya atau diri orang lain yang merupakan kewajaran cerita.

 

Kata kunci: klimaks, drama Othello.

 

THE INFLUENCES OF UNPLEASANT MEMORIES

OF FRANK CASTLE’S MURDERED FAMILY

TOWARDS HIS PERSONALITY CHANGES

IN HANDLING HIS EMOTIONAL RESPONSES IN THE PUNISHER MOVIE

 

Revida Engelbertha

Dosen Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

The Punisher’ tells about FBI agent. Frank Castle is an undercover agent working his last case before his retires. He has had all the hard cases along his whole career, even when he was in the Army’s Special Forces. The purposes of writing this study are: First, to analyze the factors which influence Frank Castle’s personality changes. Second, to analyze the emotional responses of Frank Castle in solving his problems. Third, to discuss further the personality changes of Frank Castle.This study applies qualitative methodology and descriptive analysis. The data is taken from ’The Punisher’. In analyzing the data, the writer applies psychological approach and basic theories of psychology which do not only focus on the mind but also behaviors. Behavior has something to do with characters that influence the development of the relationship toward others. Life is a matter of making choices whether it is good or bad. There is no perfect decision leading somebody to do right or wrong things. What is right at the beginning might be wrong at the end. Good things might change to evils or vice versa.

 

Key words: memories, personality

 

Abstrak

Film ‘The Punisher’ bercerita tentang agen FBI, Frank Castle, yang menjalani tugas terakhirnya sebelum pensiun. Dia telah berpengalaman menangani kasus-kasus berat sepanjang karirnya bahkan sejak dia masih bertugas di angkatan darat. Tujuan artikel ini adalah: pertama, untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahan personalitas Frank Castle. Kedua, untuk mengetahui respon emosional secara psikologis dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Frank Castle. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dan analisis deskriptif. Data diambil dari ‘The Punisher’ dan dalam menganalisis data penulis menerapkan pendekatan psikologis serta teori-teori psikologi yang tidak hanya menitikberatkan pada masalah pikiran tetapi juga tingkah laku. Tingkah laku erat kaitannya dengan karakter yang berpengaruh pada hubungan interpersonal. Kehidupan adalah hanya masalah pilihan, ada yang baik dan ada yang buruk. Tidak ada keputusan yang paling baik untuk seseorang dalam menentukan pilihan yang baik atau buruk. Hal yang baik di awal mungkin berakhir buruk. Sesuatu yang baik bisa berubah buruk begitu pula sebaliknya

 

Kata kunci: kenangan, personalitas

 

 

PERAN MEDIA DALAM MENEGASKAN KEHAMPAAN DARI BUDAYA KONSUMERISME

DALAM DUA NOVEL DON DELILLO,

WHITE NOISE DAN THE NAMES

 

Wulansari

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Periwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

Don Delillo’s novels, The Names and White Noise deal much with worl dominated by plural people, places, and cultures which potray the different ways of thinking, origins, and reasons in tringgering the emergence of the consumerism culture. The aim of this study is to reveal the roles of media participate much in either deconstructing and emphasizing the nihilism of the existed consumerism culture. The method used in this study is descriptive analysis which applies sociocultural approach. It focuses the analysis on the conflicts happen in family, the friction in marriage, and the unpredictable metal growth of children are just only the unavoidable risks of the process in understanding the advance of the uncontrollable sophisticated mass,electronics, and telecommunication media. These media have backed up much the characters as the agent, producer and marketer in the transaction of consumerism culture. Ironically, The Names and White Noise show the failure of the consumed mind, intellectuals and technology in establishing the settled and expected society which is proven by the devoured humanization.

 

Key Words: media, consumerism

 

Abstrak

The Names dan White Noise adalah novel karya Don Delillo yang menceritakan dunia yang didominasi oleh keberagaman manusia, tempat, dan budaya yang mencerminkan perbedaan pemikiran, asal-usul, dan alasan yang memicu merebaknya budaya konsumerisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tema adanya peran media dalam menegaskan kehampaan budaya konsumerisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif yang mengaplikasikan pendekatan sosio-budaya. Penelitian ini memfokuskan analisanya pada konflik yang terjadi dalam keluarga, pernikahan, dan perkembangan mental anak yang tidak terduga sebagai resiko tak terhindarkan dari proses pemahaman akan kemajuan media masa, elektronik, dan telekomunikasi yang canggih dan tak terkendali. Media-media tersebut telah mendukung para tokoh yang berperan sebagai agen, penghasil, dan agen pemasaran dalam transaksi budaya konsumerisme sendiri. Ironisnya novel The Names dan White Noise menunjukkan kegagalan dari konsumsi pemikiran, kecerdasan, dan teknologi dalam menciptakan masyarakat yang mapan dan diharapkan yang dibuktikan dengan adanya kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Kata Kunci: media, konsumerisme

 

PERBANDINGAN PENGAJARAN KALIMAT TIDAK LANGSUNG

MELALUI GAMBAR DAN TANPA GAMBAR

TERHADAP PEMAHAMAN SISWA

 

Susiyati

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

Teaching indirect speech or reported speech in English is a problem for most of English teachers. The objectives of this research are: first, to identify problems that might arise in teaching indirect speech in English. In learning indirect speech, the students do not only have difficulties in changing tenses, but also in changing pronouns from direct speech to indirect speech. Second, to overcome the problems by teaching indirect speech through pictures. This research applies simple randomized design. Data is taken from the post test of control and experiment groups. The result shows that teaching indirect speech through pictures is better than teaching without pictures.

 

Key Words: indirect speech, pictures, students’ comprehension

 

Abstrak

Mengajarkan kalimat tidak langsung di dalam bahasa Inggris merupakan masalah bagi sebagian para pengajar bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah: yang pertama adalah untuk mengidentifikasikan masalah-masalah yang muncul di dalam pengajaran kalimat tidak langsung di dalam bahasa Inggris. Dalam mempelajari kalimat tidak langsung, siswa bukan saja dihadapkan pada masalah mengubah bentuk-bentuk kalimat tetapi juga kata ganti orang dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Yang kedua adalah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan membandingkan pengajaran kalimat tidak langsung melalui gambar-gambar dan tanpa gambar-gambar. Penelitian ini menggunakan ‘simple randomized design’. Data diperoleh dari test akhir pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran kalimat tidak langsung melalui gambar-gambar dapat meningkatkan pemahaman siswa dibandingkan dengan pegajaran tanpa gambar-gambar.

 

Kata Kunci: kalimat tidak langsung, gambar-gambar, pemahaman siswa.

 

HUBUNGAN ANTARA PENINGKATAN PENGETAHUAN KEBAHASAAN,

SIKAP ORANG TUA TERHADAP POLA BELAJAR ANAK,

DAN HASIL BELAJAR MEMBACA PEMAHAMAN:

STUDI KASUS SEKOLAH DASAR NEGERI KECAMATAN KRAMAT JATI JAKARTA TIMUR

 

Artanti

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Pertiwi

Jl. Dewi Sartika, Kav 2-3, Cililitan, Jakarta Timur

 

Abstract

The effort of improving elementary school students’ linguistic competence and their learning output should be conducted based on instructional programs which can be verified by means of field researches. The objectives of this research are: first, to find out the correlation between the students’ linguistic competence and reading comprehension achievement. Second, to discover the correlation between parents’ attitude towards children’s learning habit and reading comprehension achievement. Third, to find out the correlation between parents’ linguistic competence and attitude towards children’s learning habit and reading comprehension achievement. The result of this research shows that the higher parents’ attitude towards their children’s learning habit, the higher the children’s reading comprehension achievement.

 

Key words: Linguistic competence, parents’ attitude, reading comprehension achievement

 

Abstrak

Upaya memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan kebahasaan dan hasil belajar siswa Sekolah Dasar tentu dilaksanakan berdasarkan program pengajaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan hal tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penelitian lapangan. Hal ini dilakukan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mengikuti ujian nasional materi bidang bahasa Indonesia di sekolah, khususnya Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: yang pertama, hubungan antara peningkatan pengetahuan kebahasaan dan hasil belajar membaca pemahaman; yang kedua, pengaruh sikap orang tua terhadap pola belajar anak dan hasil belajar membaca pemahaman dan yang ketiga, hubungan antara pengetahuan kebahasaan dan sikap orang tua terhadap pola belajar anak secara bersama-sama dengan hasil belajar membaca pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi sikap orang tua terhadap pola belajar anak, maka makin tinggi hasil belajar membaca pemahaman.

 

Kata Kunci : pengetahuan kebahasaan, sikap orang tua, hasil belajar membaca pemahaman.